Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ukhuwah Nahdliyah : Pengertian, Jenis, Kendala dan Penerapannya

Daftar Isi [Tampil]

Pengertian Ukhuwah Nahdliyah

Secara etimologi, ukhuwah nahdliyah berasal dari dua kata bahasa Arab, ukhuwah yang artinya persaudaraan dan nahdliyyah yang artinya perspektif kelompok NU.

Secara etimologi, ukhuwah nahdliyah adalah formulasi sikap persaudaraan, kerukunan, persatuan, dan solidaritas yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau satu kelompok pada kelompok lain dalam interaksi sosial serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tradisi, dan sejarah bangsa yang menjunjung tinggi tinggi prinsip-prinsip Ahlussunnah Waljamaah.

Kesejatian ukhuwah nahdliyyah akan semakin meneguhkan dan meningkatkan kualitas kaum Nahdliyyin serta makin meningkatkan peranan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penjabaran Ukhuwah di Bidang Sosial dan Politik

Spesifikasi kaum Nahdliyyin yang sangat menonjol adalah sikap kebersamaannya yang tinggi dengan masyarakat di sekelilingnya. Kaum Nahdliyyin merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat, mulai dari struktur yang terkecil hingga yang terbesar.

Kaum Nahdliyyin mampu menempatkan manusia pada kedudukan yang sama dihadapan Allah sebagaimana firman-Nya sebagai berikut :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ۚ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬ (١٣)
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat : 13)

Di kalangan internal NU, ketegasan Alquran dan al Hadis telah memberikan inspirasi besar sehingga menempatkan isu ukhuwah, persatuan dan kesatuan sebagai titik tekan pertama dan utama. Sikap dan moralitas yang tinggi merupakan implementasi dari konsep persaudaraan NU yang dikenal dengan ukhuwah nahdliyyah.

Landasan lain dari ukhuwah nahdliyyah adalah pendapat KH. Hasyim Asy’ari yang menegaskan bahwa persatuan, ikatan batin, tolong menolong, dan kesetiaan antarmanusia dapat melahirkan kebahagiaan serta faktor penting bagi tumbuh kembangnya persaudaraan dan kasih sayang.

Konsepsi ukhuwah nahdliyah juga merujuk kepada Mukaddimah AD/ART NU yang secara umum dinyatakan bahwa NU perlu mengembangkan ukhuwah islamiah yang mengemban kepentingan nasional demi terciptanya sikap saling pengertian, saling membutuhkan, dan perdamaian dalam hubungan antarbangsa.

Timbulnya sikap ukhuwah dalam kehidupan masyarakat disebabkan adanya dua hal, yaitu :

  1. Adanya persamaan, baik dalam masalah keyakinan atau agama, wawasan, pengalaman, kepentingan, tempat tinggal maupun cita-cita.
  2. Adanya kebutuhan, yang dirasakan hanya dapat dicapai dengan melalui kerja sama dan kegotongroyongan serta persatuan.

Ukhuwah (persaudaraan atau persatuan) menuntut beberapa sikap dasar, yang akan mempengaruhi kelangsungannya dalam realitas kehidupan sosial. Sikap dasar tersebut adalah :

  1. Saling mengenal (taaruf)
  2. Saling menghargai (tasamuh)
  3. Saling menolong (taawun)
  4. Saling mendukung (tadlamun)
  5. Saling menyayangi (tarahum)

Ukhuwah (persaudaraan atau persatuan) akan terganggu kelestariannya, apabila terjadi sikap-sikap destruktif (muhlikat) yang bertentangan dengan perilaku etika sosial (akhlakul karimah) seperti :

  1. Adanya saling menghina (assakhriyyah)
  2. Adanya saling mencela (allamdzu)
  3. Adanya praduga jelek (su’udhan)
  4. Adanya sikap suka mencemarkan nama baik (ghibah)
  5. Adanya sikap kecurangan yang berlebihan (tajassus)
  6. Adanya sikap congkak (takabbur)

Jenis-Jenis Ukhuwah Nahdliyah

Menurut KH. Muchith Muzadi, ukhuwah nahdliyyah merupakan formulasi atas tiga konsepsi persaudaraan dalam skala terbatas yang merupakan penjabaran dari konsepsi ukhuwah islamiyah dalam skala besar.

Dalam redaksi lain, tri ukhuwah yang dikenal di kalangan Nadliyyin berakar pada konsep yang pertama, yaitu ukhuwah islamiyah, artinya persaudaraan, kerukunan, berdasarkan ajaran agama Islam.

Ketiga konsep persaudaraan dalam perspektif kaum Nahdliyyin tersebut adalah :

1. Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah yaitu persaudaraan antarpemeluk agama Islam. Menurut KH. Muchith Muzadi, NU berpandangan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh ikatan kesamaan agama, bangsa/negara dan kejadian manusia.

Sehingga Islam pun mengatur hubungan antarsesama pemeluk agama agar terwujud persaudaraan dan kerukunan yang berdasarkan saling pengertian dan menghormati di internal umat Islam.

Ukhuwah Islamiyah adalah upaya menumbuhkembangkan persaudaraan dengan berlandaskan kepada kesamaan akidah atau agama. Karena itu bentuk persaudaraan ini tidak dibatasi wilayah, kebangsaan atau ras. Seluruh umat Islam diseluruh dunia adalah saudara.

Tata hubungan dalam ukhuwah islamiyah menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat. Puncak dari ukhuwah islamiyah adalah tumbuhnya persaudaraan hakiki yang stabil dan sepanjang masa.

2. Ukhuwah Wathaniyah

Ukhuwah Wathaniyah adalah persaudaraan antar sesama bangsa. Pada diri manusia perlu ditumbuhkan persaudaraan yang berdasarkan atas kesadaran berbangsa dan bernegara. Seluruh bangsa Indonesia adalah saudara setanah air.

Tata hubungan ukhuwah wathaniyah menyangkut hal-hal yang bersifat sosial budaya. Ukhuwah wathaniyah merupakan spirit bagi kesejahteraan kehidupan bersama serta tempat penting bagi proses kesadaran sebuah bangsa dalam mewujudkan kesamaan derajat dan tanggung jawab.

3. Ukhuwah Insaniyah / Basyariyah

Ukhuwah Insaniyah / basyariyah adalah persaudaraan sesama umat manusia. Manusia mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki yang tumbuh dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal. Seluruh manusia di dunia adalah saudara.

Tata hubungan dalam ukhuwah Insaniyah / basyariyah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, adil dan damai. Ukhuwah Insaniyah / basyariyah bersifat solidaritas kemanusiaan.

Ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah merupakan dua sikap yang saling membutuhkan dan saling mendukung. Keduanya harus diupayakan keberadaannya secara serentak, dan tidak dipertentangkan antara satu dengan yang lain.

Sikap hubungan antara persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) dan persatuan nasional (ukhuwah wathaniyah) adalah :

  1. Akomodatif, dalam arti adanya kesediaan untuk saling memahami pendapat, aspirasi, dan kepentingan satu sama lain.
  2. Selektif, dalam arti adanya sikap kritis untuk menganalisis dan memilih yang terbaik dan yang aslah (lebih memberi maslahat) serta anfa’ (lebih memberi manfaat) dan beberapa alternatif yang ada.
  3. Integratif, dalam arti kesediaan untuk menyesuaikan dan menyelenggarakan berbagai macam kepentingan dan aspirasi tersebut secara benar, adil dan proporsional.

Persaudaraan Islam dan persatuan nasional merupakan landasan dan modal dasar bagi terwujudnya hubungan kemanusiaan yang universal.

Kendala atau Hambatan Ukhuwah

Proses pengembangan wawasan ukhuwah tersebut kerap kali mengalami hambatan-hambatan karena beberapa masalah yang timbul dari :

  1. Adanya kebanggaan kelompok yang berlebihan, yang mudah menimbulkan sikap apriori dan fanatisme yang tidak terkontrol,
  2. Adanya kesempatan cakrawala berpikir, baik yang disebabkan oleh keterbatasan tingkat pemahaman masalah keagamaan dan kemasyarakatan, maupun yang disebabkan oleh rasa taasub golongan yang berlebihan,
  3. Lemahnya fungsi kepemimpinan umat dalam mengembangkan budaya ukhuwah tersebut, baik dalam memberikan teladan kepada bawahan, maupun dalam cara mengatasi gangguan kerukunan yang timbul dalam kehidupan umat maupun organisasi.

Penerapan dan Pelestarian Ukhuwah

Dalam penerapan konsep dan wawasan ukhuwah, dapat dilakukan berbagai cara dan melalui bermacam lembaga dan sarana, antara lain :
  1. Persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) seyogyanya dimulai dari lingkungan yang paling kecil (keluarga), kelompok atau warga suatu jamiah, kemudian dikembangkan dalam lingkungan yang lebih luas (antarjamiah, antaraliran, dan antarbangsa)
  2. Perlu adanya keteladanan yang baik (uswah hasanah) dan para pemimpin umat dan khususnya bagi NU diperlukan keteladanan para pengurus untuk menampilkan sikap ukhuwah yang dapat dijadikan contoh oleh warganya dan umat Islam pada umumnya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan fungsionalnya.
  3. Mengembangkan perluasan cakrawala berpikir dalam masalah keagamaan maupun kemasyarakatan, dalam rangka lebih meningkatkan saling pengertian dan saling memahami wawasan pihak lain, dan mengembangkan sikap keterbukaan dalam menghadapi masalah-masalah sosial.
  4. Terbentuknya lembaga-lembaga atau pranata-pranata yang dapat menumbuhkan kerukunan persatuan dan solidaritas warga dan umat, seperti koperasi, badan-badan pengembangan ekonomi, lembaga-lembaga bantuan, badan-badan kontak dan konsultasi, dan lain sebagainya, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan umat.
  5. Mendayagunakan semua lembaga dan sarana yang sudah tersedia baik yang diadakan oleh pemerintah maupun oleh swadaya masyarakat sendiri, seperti MUI, pesantren, sekolah, dan kampus perguruan tinggi, sebagai sarana pengembangan persaudaraan Islam dan persatuan nasional.
  6. Mendayagunakan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang dimiliki oleh NU khususnya, agar lebih berperan dalam pengembangan wawasan ukhuwah tersebut, baik melalui program kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.
  7. Menciptakan suatu mekanisme yang baik dan efektif dalam kehidupan jamiah NU sendiri, atau di dalam mengatasi perbedaan pendapat dengan pihak-pihak lain. Dalam hubungan ini, perlu difungsikan “ISLAHU DZATIL BAIN” dengan seoptimal mungkin.

Post a Comment for "Ukhuwah Nahdliyah : Pengertian, Jenis, Kendala dan Penerapannya"

Kunjungi : Banyak Diskon Hingga 80% dari Lazada + Gratis Ongkir. Jangan Sampai Kelewatan


close
Banner iklan disini